Beda Sunnah Dalam Pengertian Syariat dan Fikih

Ketika mendengar kata sunnah, misal kita disebutkan dalam sabda Nabi “ ikutlah sunnahku dan sunnah khulafaurrosyidin..” atau ketika mendengar sebuah hadits yang menceritakan tentang suatu golongan dari umat nabi Muhammad yang terusir tidak bisa mendatangi Nabi SAW ditelaga kautsar, dikarenakan setelah sepeninggal nabi mereka tidak lagi berpegang teguh pada kitabullah dan sunnah nabi. Barangkali sebagaian dari kita masih mengartikan kalimat sunnah tersebut dengan pengertian: sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Tentu saja pengertian seperti itu sangat keliru, karena yang dimaksud dengan sunnah sebagaimana tersebut diatas adalah sunnah dalam istilah syariat, yaitu “segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan/persetujuan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam”. Atau dengan kata lain, sunnah yang dimaksud disini adalah jalan hidup atau pedoman hidup Rosulullah SAW untuk kita, yang merupakan penjabaran atau penjelasan dari kitab Allah yaitu Al-Qur’an.
Tanpa penjabaran atau penjelasan serta contoh dari Nabi SAW kita, akan kesulitan untuk mengamalkan isi Al-Qur’an yang isinya masih global. Contohnya ketika didalam Al-Qur’an ada perintah sholat , Al-Qur’an hanya memerintahkan kita untuk sholat, tapi bagaimana  caranya sholat tidak disebutkan secara rinci oleh Al-Qur’an. Nah disini kemudian Rosulullah menjelaskan dan mencontohkan bagaimana pengamalan dari perintah sholat yang termaktub dalam Al-Qur’an tersebut. Sehingga kemudian ketika ada kalimat “sholatlah sesuai sunnah Rosulullah”maka yang dimaksud disini adalah sholat sebagaimana sholatnya Rosulullah, kita tidak boleh menambahi dan tidak mengurangi.
Dalam sunnah sebagaimana dimaksud diatas yaitu, “ segala sesuatu yang bersumber dari Nabi..”, maka segala sesuatu dari nabi yang berkaitan dengan perintah, ada yang bersifat wajib, sunnah, makruh, mubah dan juga haram. Nah disinilah kemudian muncul kata sunnah dalam istilah fikih, yaitu sunnah dalam konteks tingkatan hukum islam. Dimana “Sunnah” (disebut juga Mandub, Mustahabb, Nafilah, Masun) didefinisikan sebagai “Sesuatu yang diperintahkan oleh Syar’i tetapi tidak secara ilzam (wajib)“, dan “Sesuatu yang mandub (sunnah) itu pelakunya mendapat pahala jika didasari karena melaksanakan perintah, dan yang meninggalkannya tidak mendapat hukuman“. Atau secara umum dipahami sebagai sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Oleh karena itu, ketika mendengar kata-kata sunnah, hendaknya dilihat konteks pembicaraan. Apakah sedang membicarakan jalan hidup atau tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam atau sedang membicarakan tingkatan hukum dari sebuah amalan. Dan hendaknya kita senantiasa berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, baik itu yang Wajib maupun yang Sunnah. Wallahu a’lam.

Tentang kyaibawor

Berusaha Lurus
Pos ini dipublikasikan di Seputar agama dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s