Bekerja di Perusahaan Orang Kafir, Bolehkah?

Benarkah tidak boleh bekerja di perusahaan milik orang kafir?
Berikut kami kutipkan sedikit isi dari  tulisan yang tulis oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA dan telah dimuat pada laman rumahfiqih.com (2/4/2014) dengan judul Bolehkah Bekerja di Perusahaan Milik Orang Kafir?

Rasulullah SAW Bermuamalat Dengan Orang Kafir

Syariat Islam tidak pernah mengharamkan muamalat dengan orang kafir. Yang haram kalau dalam muamalat itu ada akad-akad haram seperti riba, penipuan, penggelapan, kecurangan dan lainnya. Dan semua itu bisa saja dilakukan oleh orang kafir dan muslim sekali pun.

Meski Madinah itu sudah jadi negara Islam, tetapi jangan dikira kalau penduduknya muslim semua. Justru tetangga Rasulullah SAW masih memeluk agama Yahudi. Dan menarik sekali, ternyata Rasulullah SAW tetap bermuamalat dalam hubungan ekonomi dengan tetangganya yang yahudi itu. Beliau pernah meminjam uang untuk membeli makanan darinya dengan jaminan baju besi.

Ketika beliau SAW hijrah ke Madinah, orang yang beliau sewa untuk menjadi penunjuk jalan ternyata bukan muslim. Dia bernama Abdullah bin Uraiqidh, seorang penyembah berhala dari kalangan Arab jahiliyah.

Syarat Bekerja Dengan Orang Kafir

Namun kadang-kadang ada saja bos non muslim yang berlaku sewenang-wenang kepada karyawannya, khususnya dalam masalah yang terkait agama. Misalnya bersikap menghalangi karyawan muslim untuk sekedar mengerjakan shalat fardhu, atau melarang karyawan wanita menutup aurat, bahkan memaksa karyawan minum khamar dan seterusnya.

Sikap sewenang-wenang yang melanggar agama ini tentu saja tidak selalu tejadi di semua perusahaan milik non muslim. Sebab banyak sekali perusahaan yang notabene milik non muslim, tetapi justru bersikap sangat toleran terhadap urusan agama Islam.

Jadi kita tidak bisa menggeneralisir bahwa semua perusahaan non muslim itu pasti bersikap tidak baik, walau pun juga tidak menutup kemungkinan semua itu terjadi pada kasus tertentu.

Maka yang jadi ukuran bukan apakah pemilik perusahaan itu muslim atau bukan muslim, tetapi apakah di dalam perusahaan itu diberikan toleransi untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinan masing-masing atau tidak.

Demikianlah penjelasan tentang fiqih bekerja pada perusahaan yg dimiliki atau dipimpin oleh orang kafir.

Iklan
Dipublikasi di Seputar agama | Tag , , | Meninggalkan komentar

Masuknya Islam di Jawa

sejarah-masuknya-islam-di-jawaMenurut catatan sejarah, tidak ada beda waktu antara masuknya Islam ke Aceh dan ke tanah Jawa. Menurut Hamka utusan Khalifah Mu’awiyah tiba di Jawa pada masa pemerintahan Ratu Shima di kerajaan Kalingga. Tapi d Aceh, pada abad ke II Hijriyah (900M), sudah berdiri kerajaan Islam pertama, yakni kerajaan Islam Peurlak. Di jambi, kerajaan Sriwijaya Islam berdiri pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis, meski kemudian kerajaan Islam ini tumbang akibat serangan kerajaan Sriwijaya Budha dari Palembang, sedangkan di Jawa, Kerajaan Islam baru berdiri pada abad ke VIII Hijriyah (1478 M), sebuah rentang berbedaan waktu yang cukup panjang. Pada abad ini, seiring dengan peredaran waktu, kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha mengalami konflik internal yang berkepanjangan. Akibatnya pemerintahannya pun melemah. Pada tahun 1404 – 1406 Masehi terjadi perang Paregreg, yaitu perang antara Majapahit  istana barat yang dipimpim Wikramawardhana melawan istana timur yang dipimpim Bhre Wirabhumi. Sesungguhnya inilah penyebab utama kemunduran Majapahit.

Ketika itu juga terjadi eksodus besar-besaran. Masyarakat Jawa berpindah dari pusat – pusat kerajaan Hindu dan Budha yang tidak memberi mereka kehidupan yang aman ke daerah – daerah pelabuhan. Saat itulah masyarakat Jawa mulai bersentuhan dengan kaum Muslim yang berdagang dan dengan para Ulamayang sengaja datang untuk menyebarkan agama Islam.Egalitarianisme Islam dan struktur keimanan yang mudah dimengerti ternyata telah banyak memikat hati masyarakat Jawa. Akhirnya mereka pun berbondong-bondong masuk agama Islam. Inilah gelombang pertama Islamisasi di Jawa.

Menurut keterangan Zamakhsyari Dhofier, ada dua tahap penyebaran Islam di pulau Jawa,  yaitu tahap pertama dimana orang menjadi Islam sekedarnya, yang selesai pada abad ke-16, dan tahap kedua adalah tahap pemantapan untuk betul-betul menjadi orang Islam yang taat secara pelan-pelan menggantikan kehidupan keagamaan yang lama.  (1)

Sultan Agung Hanyakrakusuma mengawali tahap pemantapan melalui pendidikan Islam secara massal kepada masyarakat Jawa. Di setiap kampung diadakan tempat untuk belajar membaca Al-Qur’an, tatacara ibadah dan tentang ajaran dasar Islam seperti rukun Islam dan rukun Iman. Saat it apabila ada anak usia 7 tahun belum bisa membaca Al-Qur’an, ia akan malu bergaul dengan teman-temannya. Para gur agama diberi gelar Kyahi Anom oleh pihak keraton, di tingkat Kadipaten didirikan pesantren yang dipimpin oleh Kyahi sepuh. Saat itu juga dilakukan penerjemahan kitab-kitab besar berbahasa arab dalam kajian yang bersistem bandungan (Halaqoh). Kitab-kitab itu meliputi kitab Fikih, Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam dan Tasawuf, juga Nahwu Sharaf dan Falaq. Sistem kalender juga disesuaikan dengan sistem Islam (2). Sehingga budaya Ilmu tidak hanya menjadi milik elite tapi menjadi milik masyarakat secara keseluruhan.

Akselerasi pemahaman Islam melalui pendidikan Islam secara massal inilah yang menyebabkan  terjadi Islamisasi di segala sisi kehidupan Masyarakat. Konsep-konsep Islam perlahan menjadi landasan kegiatan kemasyarakatan. Istilah Upawasa (poso) sembahyang, suwargo dan naroko hanya bisa ditafsirkan dengan pengertian shoum, sholat, jannah dan naar. Islam juga menancapkan budaya baru seperti adil, mikir yang tidak ditemukan padanannya dalam akar kata asli bahasa Jawa. Ta’awun yang dijabarkan dalam arti gotong royong juga akhirnya membaur menjadi ciri khas masyarakat asli Jawa. Begitu pun konsep tasamuh yang diwujudkan dalam budaya tepa salira. Ritus-ritus penting dalam masyarakat Jawa seperti kelahiran, perkawinan dan kematian juga didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Masyarakat Jawa sudah tidak mengenal bagaimana cara ijab qobul ala agama asli Jawa ataupun merawat jenazah cara kejawen. Oleh karena itu dikotomi antara Islam dan abangan yang dipropagandakan kaum oreintalis maupun kalangan missionaris kristen tidak pernah mendapatkan pijakan teoritis yang kuat. Sebab yang berlaku di Jawa seperti dikatakan Andrey Moller adalah ortopraks Islam, yakni meskipun pelan tapi pasti bergerak menuju Islam (3). Ricklefs menilai bahwa Islamisasi masyarakat Jawa adalah transisi-transisi budaya yang terus berlanjut. Dalam rentang perjalanan sejarah sekitar empat setengah abad, orang Jawa akhirnya melihat diri mereka secara alamiah memiliki identitas pokok yang didefinisikan Islam (4). Mengenai Islam sebagai identitas dasar masyarakat Jawa juga dikemukakan oleh Nakamura da C.C. Berg.

Justru pada jantung religius kaum abangan, yaitu pada kehidupan ritual mereka, mereka betul-betul bergantung pada pertolongan kaum santri. Hanya santri lah yang dapat memimpin do’a dalam ritus yang paling sentral dari orang-orang abangan, yaitu slametan. Juga santrilah yang dapat memimpin upacara ketika orang abangan mengalami apa yang disebut Malinowsky krisis yang paling utamadan paling final dari kehidupan yaitu, kematian (5).

Sehingga sebenarnya sudah tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan trikotomi santri, abangan dan priyayi. Sebab menurut Prof. Bambang Pranowo, trikotomi tersebut bukan merupakan hal yang statis tetapi lebih baik dipahami sebagai suatu proses yang dinamis, sebagai proses “menjadi” (state of becoming), ketimbang proses “mengada” (state of being) (6). Oleh karena itu orang Jawa baik dari kalangan priyayi maupun abangan di masa tuanya akan berubah menjadi santri yang rajin ke Masjid. Yasinan dan Khataman.

(1). Zamaksyari Dhofier,  Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. (Jakarta: LP3ES, 1982) hal. 12

(2). Prof. H. Mahmud Yunus, sejarah Pendidikan islam di Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996), hal. 223-225.

(3). Andre Moller, Ramadhan di Jawa, hal. 48.

(4). Azyumardi Azra, “Pengantar”, hal. Xv.

(5). Ekadarmaputera, “Pancasila Identitas dan Modernitas”, Tinjauan Etis dan Budaya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991) hal. 59-60.

(6). Bambang Pranowo, Memahami Islam Jawa, (Tangerang, Pustaka Alvabet, 2009) hal. Vii.

 

Dipublikasi di Seputar agama, Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

Habib Rizieq Sihab dan FPI

fpi

Fron Pembela Islam dan Pendirinya

Habib Rizik, Siapa yang tidak mengenal sosok yang satu ini. Beliau seorang ulama besar Indonesia yang memiliki jutaan pengikut. Seorang tokoh Islam Indonesia yang dikenal sebagai pemimpin atau Imam Besar organisasi Front Pembela Islam. Beliau seorang mujahid tangguh, seorang orator ulung dan seorang singa podium ketika di atas panggung. Beliau mampu membangkitkan ruhul jihad didepan banyak orang. Beliau berani mengatakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Setiap pengajian atau atau tabligh akbar yang dimana beliau menjadi penceramahnya suka dihadiri oleh ribuan bahkan ratusan ribu orang.

Beliau adalah DR. Al Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab, Lc.MA.DPMSS. Rumah beliau terletak di Jl. Petamburan III No. 83, Tanah Abang Jakarta Pusat. Walau pun kini Beliau pindah ke Markaz Syariah di Megamendung Bogor Jawa Barat. Beliau lahir di Jakarta, 24 Agustus1965.

Silsilah Keturunan Habib Rizieq Sihab

Nasab: Al Habib Muhammad Rizieq Shihab bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Husein bin Muhammad bin Syeikh bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Syihabuddin Al-Asghar bin Abdurrahman Al-Qadhi bin Ahmad Syihabuddin Al-Akbar bin Abdurrahman bin Syeikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Segaf …bin Muhammad Maulad Daawilah bin Ali bin Alwi Ibnul Faqih bin Muhammad Al-Faqihil Muqaddam bin Ali Walidil Faqih bin Muhammad Shahib Murbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Djamaluddin bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra binta Rasulullah Muhammad SAW.

Istri Habib Rizieq serta nasabnya

Nasab Istri Habib Rizieq Shihab adalah: Syarifah Fadhlun Yahya binti Faadhil bin Hasan bin Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Aqil bin Syeikh bin Abdurrahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alwi bin Muhammad Maulad Daawilah bin Ali bin Alwi Ibnul Faqih bin Muhammad Al-Faqihil Muqaddam bin Ali Walidil Faqih bin Muhammad Shahib Murbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Djamaluddin bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra binta Rasulullah Muhammad SAW.

Beliau memang keturunan Nabi Muhammad SAW yang ke-38. Beliau mewarisi ketegasan datuknya, kesantunan serta akhlaknya yang baik dan ilmunya yang luas. Meskipun begitu Al Habib Muhammad Rizieq pernah berkata:

“Garis keturunan bukan untuk tujuan pamer. Jika itu adalah tujuan, maka merupakan kesombongan, dan itu adalah dosa.”

Habib Rizieq Anak Pejuang

Al Habib Husein ayahnya Al Habib Rizieq meninggal dunia tahun 1966. Jadi, ketika itu Al Habib Rizieq baru berusia 11 bulan. ”Jadi saya mengenalnya hanya dari foto,” kata Al Habib Rizieq.

Sang ayah lahir tahun 1920-an, sebelum meninggal di Polonia, Jatinegara, berkata kepada seorang anggota keluarganya, “Tanyakan kepada putra saya ini, kalau sudah besar mau menjadi ulama atau jagoan. Kalau mau jadi ulama, didik agamanya dengan baik. Kalau mau jadi jagoan, berikan dia golok.” Al Habib Rizieq pun tumbuh menjadi seorang ulama besar yang disegani oleh kawan maupun lawan. Menurut sejumlah teman almarhum Habib Husein Shihab merupakan pemimpin Pandu Arab. Al Habib Husein ini pernah bekerja di Rode Kruis (kini Palang Merah Indonesia) pada masa kembalinya Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.

Al Habib Husein, yang ketika itu masih berusia 20 tahunan, bekerja di bagian logistik. Di sini beliau punya hubungan dengan para pejuang kemerdekaan. Beliau banyak memberikan makanan dan pakaian untuk para pejuang yang ketika itu bergerilya di Jakarta dan sekitarnya.

Rupanya pihak NICA (tentara Belanda) mengendus tingkah lakunya itu, karena ada kawannya sendiri yang tega mengkhianatinya dan melaporkannya pada NICA. Tanpa ampun lagi, Al Habib Husein Shihab pun ditangkap. Kedua tangannya diikat dan ia diseret dengan kendaraan Jeep. Di penjara beliau divonis hukuman mati oleh Belanda. Tapi, berkat bantuan Allah, Al Habib Husein Shihab berhasil kabur dari penjara dan melompat ke Kali Malang. Setelah diselamatkan oleh para laskar pimpinan KH. Noer Ali. Beliau selamat, meskipun bagian pantatnya tertembak. Beliau sadar setelah sebelumnya mendapat pertolongan dari KH Noer Ali, pejuang Bekasi yang sangat ditakuti NICA.

Pernah dalam suatu kesempatan Al Habib Muhammad Rizieq Shihab memperlihatkan foto ayahnya dengan istri Bung Karno, Fatmawati, dalam suatu upacara pada awal kemerdekaan. Al Habib Rizieq menyatakan bangga terhadap ayahnya punya semangat nasionalisme yang tinggi dan ikut membakar semangat para pemuda Arab melawan Belanda melalui Pandu Arab Indonesia serta merupakan seorang pejuang kemerdekaan.

Semenjak ayahnya meninggal Al Habib Muhammad Rizieq Shihab tidak dididik di pesantren. Namun, sejak berusia empat tahun Beliau sudah rajin mengaji dari masjid ke masjid. Ibunya yang sekaligus berperan sebagai bapak dan bekerja sebagai penjahit pakaian serta perias pengantin, sangat memperhatikan pendidikan Al Habib Muhammad Rizieq Shihab.

Pendidikan sekolahnya dimulai di SDN 1 Petamburan, SMP 40 Pejompongan, SMP Kristen Bethel Petamburan Jakarta, SMAN 4 Gambir, dan SMA Islamic Village (Tangerang) sampai pada tahun 1982. Kemudian tahun 1983 kuliah di LIPIA selama setahun kemudian Habib mendapat beasiswa dari OKI untuk melanjutkan studi S1 di King Saud University, jurusan Dirasah Islamiyah, Fakultas Tarbiyah. Tahun 1990 Habib Rizieq berhasil menyelesaikan studinya dan sempat mengajar di sebuah SLA di Riyadh selama 1 tahun lalu kembali ke Indonesia pada tahun 1992. Studinya ke King Saudi University, Arab Saudi, yang diselesaikan dalam waktu empat tahun dengan predikat cum-laude. Beliau tinggal di Arab Saudi kurang lebih selama 7 – 8 tahun. Selanjutnya Al Habib Muhammad Rizieq Shihab juga telah menyelesaikan Studi Islam S2 dan S3 di Universitas Antar-Bangsa Malaysia.

Sebelum Beliau sekolah di luar negeri, Beliau juga sering menghadiri berbagai majelis taklim yang ada di Jakarta serta belajar pada para ulama dan Habaib yang ada di Jakarta.

Setelah pulang ke Indonesia beliau mulai mengajar bahkan menjadi kepala sekolah Madrasah Aliyah Jamiat Kheir, Jakarta. Selain itu, sekarang ini beliau masih menjabat sebagai Mufti Besar Kesultanan Darul Islam Sulu Malaysia (gelar: Datuk Paduka Maulana Syar’i Sulu). Jadi, gelar DPMSS merupakan singkatan dari mufti sulu.

Beliau menikah pada 11 September 1987 dengan Syarifah Fadhlun serta dikaruniai 7 orang anak perempuan: Rufaidah Syihab, Humairah Syihab, Zulfa Syihab, Najwa Syihab, dan Mumtaz Syihab, Fairuz Syihab dan Zahra Syihab. Anak-anak tersebut disekolahkan di Jami’at Khair, dan juga didatangkan guru privat (ilmu agama dan umum).

Fron Pembela Islam (FPI) Didirikan

Al Habib Muhammad Rizieq Shihab mendeklarasikan berdirinya Front Pembela Islam (FPI) tanggal 17 Agustus 1998 atau tanggal 25 Robi’utsani 1419 H. Front Pembela Islam (FPI) adalah sebuah organisasi massa Islam yang berpusat di Jakarta. Beliau dalam menegakkan amar maruf nahi munkar memang tegas dan tanpa pandang bulu. Organisasi yang mencanangkan Gerakan Nasional Anti Maksiat pada awal berdirinya. Maka, berbagai kritik, kecaman, tuduhan, tudingan,
fitnah dan caci maki, teror, ancaman dan intimidasi kerapkali dialamatkan pada Habib dan organisasi ini.

Berbagai ujian dan cobaan menghantam Habib, serta para aktivis yang tergabung dalam FPI. Pada tanggal 3 Sya’ban 1419 H/ 22 November 1998 terjadi Peristiwa Ketapang, Jakarta, 22 November 1998, sekitar 200 anggota massa FPI bentrok dengan ratusan preman. Peristiwa ini menyeret FPI ke dalam tragedi berdarah yang menggemparkan dunia. Bahkan pada tanggal 11 April 1999 Al Habib Rizieq ditembak orang tak dikenal.

Alhamdulillah.. atas berkat pertolongan Allah SWT beliau selamat dari usaha pembunuhan tersebut. Setahun kemudian yaitu sepanjang tahun 2000 terjadi penangkapan besar-besaran terhadap aktivis FPI diberbagai wilayah.

Keluar Masuk Penjara

Benarlahlah kata pepatah “semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin menerjang”. Begitulah yang dialami oleh Al Habib Rizieq beserta para aktivisnya yang tergabung dalam FPI harus keluar masuk penjara serta menghadapi berbagai badai fitnah, cacian dan ancaman.

Tepatnya pada tanggal 16 Oktober 2002 Al Habib Rizieq dipenjara dalam rumah tahanan Polda Metro Jaya tanpa ada alasan yuridis yang jelas. Kemudian dilanjutkan dengan tahanan rumah, lalu penangguhan penahanan hingga 20 April 2003. Akan tetapi, pada 21 April 2003 Al Habib Rizieq kembali dijebloskan ke penjara rumah Tahanan Salemba. Hal ini pun tanpa alasan hukum yang jelas.

Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tanggal 30 Oktober 2008 Habib Muhammad Rizieq Syihab divonis 1,5 tahun penjara karena dinyatakan bersalah terkait penyerangan terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan atau AKKBB pada peristiwa Insiden Monas 1 Juni. Hal ini pun tanpa alasan hukum yang jelas.

Al Habib Rizieq sangat paham dan mengerti bahwa berbagai penahanan tersebut merupakan bagian dari upaya pemberangusan dakwah Habib bersama FPI dan gerakan amar maruf nahi munkarnya. Berbagai alasan dibuat, pasal berlapis disiapkan dan kedzoliman atas nama hukum dilakukan.

Namun, apapun bentuk kedzoliman yang dilakukan, Alhamdulillah.. FPI tetap eksis dan konsisten dengan perjuangan amar maruf nahi munkar. Bahkan jumlah anggota FPI semakin banyak. Diberbagai daerah dari ujung Merauke-Aceh sampai ke berbagai pulau yang ada di Indonesia dideklarasikan cabang-cabang FPI. Bahkan di Malaysia telah berdiri cabang FPI. Di negara lainpun seperti di Hadhramaut Yaman, Kairo Mesir telah terdapat cabang FPI yang tergabung dalam FMI (Front Mahasiswa Islam) yaitu organisasi sayap FPI.

Tidaklah heran jika Sulthanul Ilmi Al Habib Salim As Syathiri pimpinan Ribat Tariem Hadhramaut Yaman pernah berkata dalam Haul ayahandanya Al Quthb Al Habib Abdullah bin Umar As Syathiri, “Bahwa para habaib, ulama, shalihin serta aulia banyak sekali di bumi ini termasuk di Indonesia. Akan tetapi, sangat jarang sekali ada seorang habib yang berani seperti Habib Rizieq. Mungkin adanya hanya 800 tahun sekali itu juga dulu ketika zaman Al Imam Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi”.

Aktifitas FPI

Al Habib Rizieq berdakwah memang bukan saja melakukan amar maruf nahi munkar dan berjihad, akan tetapi Al Habib Rizieq bersama FPI melakukan berbagai bakti sosial diberbagai penjuru negeri yang ada di Indonesia. Hal ini tentu mengundang simpati masyarakat dan berbagai kalangan. Sangat berbeda jauh dengan pemberitaan-pemberitaan diberbagai media sosial yang selalu menyudutkan atau memojokkan Habib dan FPI. Beberapa bakti atau aksi sosial yang dilakukan oleh Al Habib Rizieq bersama FPI adalah sebagai berikut:

1. Menjadi evakuator mayat terbanyak ketika terjadi Tsunami di Aceh

Menteri Sosial ketika itu, Dr. Salim Segaf mengapresiasi kontribusi FPI selama ini. “Saya pernah mengunjungi Habib Rizieq dan kawan-kawan FPI ketika bencana tsunami  Aceh, saya salut kepada  FPI yang telah mengevakuasi puluhan ribu mayat ketika itu,”  ujarnya.

“Saat bencana Tsunami Aceh saya bertemu Habib Rizieq, ternyata beliau dan laskar FPI itu tinggal    di kuburan dengan mendirikan tenda-tenda bukan di hotel. Habib Rizieq  memimpin laskar untuk  mengevakuasi mayat selama 4 bulan. Subhanallah, inilah yang FPI lakukan. Bayangkan, tinggal di      kuburan, kita semalam aja udah takut, ini 4 bulan,” ujar menteri sosial menceritakan.

Dalam peristiwa bencana tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, dengan biaya sendiri serta peralatan   seadanya FPI berhasil mengevakuasi sekitar 100 ribu mayat, banyak mayat yang sulit dievakusi namun bisa diatasi oleh anggota FPI, bahkan relawan FPI-lah yang menemukan mayat. Jasa besar FPI  itu hampir tidak diberitakan sama sekali oleh media-media sekuler. Dalam tugu Tsunami disitu ditulis bahwa FPI merupakan yang terbanyak dalam mengevakuasi mayat sedangkan urutan selanjutnya adalah TNI Polri dan lembaga lainnya.

2. Gempa Padang. Seperti halnya di Aceh relawan FPI juga banyak yang turun ke Padang. Bahkan hingga berbulan bulan menolong korban gempa.

3. Gempa Jogja
4. Letusan Merapi Jogja
5. Longsor Leuwi Gajah
6. Air bah Morowali
7. Jebolnya tanggul Situ Gintungg Tangerang.
8. Tsunami di Pangandaran
9. Longsor di Ciwidey Bandung dan berbagai tempat lainnya yang mengalami bencana Relawan FPI selalu terdepan.
10. Bantuan untuk Palestina rutin setiap tahunnya tak kurang dari Rp. 1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah).
11. Pembagian sembako bagi orang-orang yang tidak mampu di berbagi tempat.
12. Banjir Bandang yang baru baru ini menimpa Garut Jawa Barat. Relawan FPI tetap bertahan sebulanan ini hingga kini dan hingga nanti tuntas.

Kerjasama FPI dengan Kemensos RI secara nasional dalam Program Bedah Kampung. Ribuan rumah miskin di puluhan kampung Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, Purwakarta, Pasuruan, Palu, dan Gresik, berhasil dibedah.

Kerjasama FPI dengan Kemenag RI dalam Program Pengembalian Ahmadiyah kepada Islam. Ribuan pengikut Ahmadiyah taubat dan masuk Islam. Seperti di Tenjo Waringin Tasik, 800 warga Ahmadiyah kembali pada Islam.

Sejumlah Pemda di berbagai Daerah bekerjasama dengan FPI dalam program kebersihan lingkungan, penyuluhan kesehatan, pemberantasan hama pertanian, penghijauan lahan gundul, dan sebagainya.

Bahkan pernah ada kerjasama FPI dengan almarhum Taufiq Kiemas Pimpinan MPR RI dalam pemantapan Empat Pilar RI. FPI tidak pernah menolak Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bineka Tunggal Ika selama ditafsirkan secara benar dan lurus.

Maka itu Mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia Gamawan Fauzi pernah mengimbau agar Kepala Daerah bisa menjalin kerja sama dengan organisasi masyarakat ini.

Bahkan saat ini FPI sudah melakukan upaya pencegahan banjir Jakarta dengan mereboisasi daerah hulu sungai yang mengarah ke Ibu Kota. Lokasi bertempat di Pesantren Agrikultural dareah Gunung Pangrango, Puncak. Pada Januari FPI menanam sekitar 40 ribuan pohon.

Habib Rizieq menargetkan agar di bulan Desember ini ada 300 ribu pohon tertanam di sana. Sehingga dua tahun kedepan ada satu juta pohon untuk reboisasi hutan Lokasi. Di daerah tersebut ada empat aliran sungai yang mengarah ke Jakarta.

Aksi sosial tersebut merupakan sebagian kecil yang sudah disumbangkan oleh FPI untuk masyarakat dan bangsa Indonesia. Masih banyak kegiatan-kegiatan positif lainnya yang telah dilakukan oleh Al Habi Rizieq Shihab bersama FPI.

Dan kini, di saat terjadi penistaan Al-Quran, Habib Rizieq tampil didepan memimpin Umat dalam membela Al-Quran.

Saat #Aksi411, Habib Rizieq memimpin jutaan umat Islam yang menuntut ditegakkannya hukum seadil-adilnya bagi penista Al-Quran. Gas air mata yang ditembakkan ke beliau atas izin Allah SWT berbalik arah menuju aparat.

Dalam pengajian pasca Aksi411 di Markaz FPI Petamburan Jakarta, Ahad (6/11/2016), Habib Rizieq berwasiat:

“Saya amanatkan kepada ummat, jika saya ditangkap, jika saya dibunuh… Perjuangan ini harus terus di lanjutkan dan jangan pernah terhenti.”

__
*Dari berbagi sumber

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Rejeki Sudah dijamin Allah

اِجْتِهَادُكَ فِيْمَاضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَاطُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَيً اِنْطِمَاسِ اْلبَصِيْرَةِ مِنْكَ

“Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu (oleh Allah ) dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, itu merupakan tanda butanya bashiroh (Mata hati)

Nasehat bijak ini memberikan pemahaman kepada kita, bahwa sebaiknya jangan memaksakan diri untuk mengejar apa yang sudah dijamin oleh Allah Ta’ala atas seluruh makhluk-Nya, termasuk kita umat manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ankabuut ayat 60:

وَكَأَيِّن مِن دَآبَّةٍلَّ تَحْمِلُ رِزْقَهَااللَّهُ يَرْزُقُهَا وَأِيَّكُم وَهُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.

“Dan berapa banyak binatang melata yang tidak (mampu) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, juga Dia maha mendengar dan maha mengetahui.”

Juga firman Allah yang lain:

“Kami Allah tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat baik itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Thoohaa: 132)

Ibrahim Al-Khawwash, seorang bijak dari kalangan tabi’in pernah berkata:

“janganlah memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (untuk dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan apa yang telah diamanahkan (diwajibkan) kepadamu untuk memenuhinya.”

Bekerja keras dan profesional, adalah keharusan kita sebagai umat Islam dalam rangka untuk memenuhi segala kebutuhan hidup kita, akan tetapi aktifitas-aktifitas duniawi kita, jangan sampai melalaikan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah Ta’ala.

Dalam sebuah hadits, Rosulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah sangat mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Asykari)

Sumber: Al-Hikam (dengan sedikit perubahan redaksi kalimat)

Dipublikasi di Seputar agama, Uncategorized | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Beda Sunnah Dalam Pengertian Syariat dan Fikih

Ketika mendengar kata sunnah, misal kita disebutkan dalam sabda Nabi “ ikutlah sunnahku dan sunnah khulafaurrosyidin..” atau ketika mendengar sebuah hadits yang menceritakan tentang suatu golongan dari umat nabi Muhammad yang terusir tidak bisa mendatangi Nabi SAW ditelaga kautsar, dikarenakan setelah sepeninggal nabi mereka tidak lagi berpegang teguh pada kitabullah dan sunnah nabi. Barangkali sebagaian dari kita masih mengartikan kalimat sunnah tersebut dengan pengertian: sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Tentu saja pengertian seperti itu sangat keliru, karena yang dimaksud dengan sunnah sebagaimana tersebut diatas adalah sunnah dalam istilah syariat, yaitu “segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan/persetujuan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam”. Atau dengan kata lain, sunnah yang dimaksud disini adalah jalan hidup atau pedoman hidup Rosulullah SAW untuk kita, yang merupakan penjabaran atau penjelasan dari kitab Allah yaitu Al-Qur’an.
Tanpa penjabaran atau penjelasan serta contoh dari Nabi SAW kita, akan kesulitan untuk mengamalkan isi Al-Qur’an yang isinya masih global. Contohnya ketika didalam Al-Qur’an ada perintah sholat , Al-Qur’an hanya memerintahkan kita untuk sholat, tapi bagaimana  caranya sholat tidak disebutkan secara rinci oleh Al-Qur’an. Nah disini kemudian Rosulullah menjelaskan dan mencontohkan bagaimana pengamalan dari perintah sholat yang termaktub dalam Al-Qur’an tersebut. Sehingga kemudian ketika ada kalimat “sholatlah sesuai sunnah Rosulullah”maka yang dimaksud disini adalah sholat sebagaimana sholatnya Rosulullah, kita tidak boleh menambahi dan tidak mengurangi.
Dalam sunnah sebagaimana dimaksud diatas yaitu, “ segala sesuatu yang bersumber dari Nabi..”, maka segala sesuatu dari nabi yang berkaitan dengan perintah, ada yang bersifat wajib, sunnah, makruh, mubah dan juga haram. Nah disinilah kemudian muncul kata sunnah dalam istilah fikih, yaitu sunnah dalam konteks tingkatan hukum islam. Dimana “Sunnah” (disebut juga Mandub, Mustahabb, Nafilah, Masun) didefinisikan sebagai “Sesuatu yang diperintahkan oleh Syar’i tetapi tidak secara ilzam (wajib)“, dan “Sesuatu yang mandub (sunnah) itu pelakunya mendapat pahala jika didasari karena melaksanakan perintah, dan yang meninggalkannya tidak mendapat hukuman“. Atau secara umum dipahami sebagai sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Oleh karena itu, ketika mendengar kata-kata sunnah, hendaknya dilihat konteks pembicaraan. Apakah sedang membicarakan jalan hidup atau tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam atau sedang membicarakan tingkatan hukum dari sebuah amalan. Dan hendaknya kita senantiasa berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, baik itu yang Wajib maupun yang Sunnah. Wallahu a’lam.

Dipublikasi di Seputar agama | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Keutamaan sholat berjamaah

Abu Hurairoh ra. Berkata bahwa Rosulullah SAW bersabda, “Seseorang laki-laki yang melakukan sholat berjama’ah di masjid lebih baik dua puluh derajat dibanding sholat yang dilakukan di pasar atau di rumah. Sebab jika seseorang melakukan wudhu dengan baik, kemudian mendatangi masjid hanya untuk sholat, maka derajatnya akan ditinggikan satu tingkatan, dan keburukan akan diampuni setiap kali ia melangkahkan kakinya hingga ia masuk masjid. Bila ia telah masuk masjid, ia diberi pahala sebagaimana orang yang melakukan sholat (sekalipun ia hanya duduk), selama ia menanti sholat (berjama’ah). Para malaikat pun mendoakan seseorang, selama ia di tempat sholatnya (ia belum meninggalkan masjid). Para malaikat itu berdoa,”Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah tobatnya.” (Doa tersebut dibaca oleh para malaikat), selama ia tidak menyakiti (orang) dan tidak berhadats.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadits Rosulullah diatas menjelaskan tentang banyaknya keutamaan sholat berjama’ah dimasjid. Yang pertama bahwa sholat berjama’ah bagi seorang muslim laki-laki, dimasjid, nilai kebaikannya lebih banyak dua puluh derajat (dalam riwayat yang lain disebutkan 25 atau 27 kali lipat) dibanding dengan sholat di rumah atau di pasar, bahkan seandainya sholat di rumah atau di pasar itu dilakukan juga dengan berjama’ah.

Yang kedua bahwa sholat berjamaah dimasjid akan meninggikan derajat seseorang di sisi Allah SWT, setiap kali ia mendatangi masjid untuk sholat berjamaah, Allah akan tinggikan derajatnya satu tingkatan. Sehingga semakin sering seseorang pergi untuk melakukan sholat jamaah di masjid, semakin tinggi pula derajatnya disisi Allah SWT, walaupun di tengah-tengah masyarakat ia seorang manusia biasa, tapi dalam pandangan Allah ia adalah manusia yang sangat mulia.

Yang ketiga adalah bahwa seseorang yang pergi untuk melakukan sholat berjamaah dimasjid, maka setiap langkahnya akan menghapus keburukan, setiap satu langkah, satu dosa akan diampuni. Semakin jauh jarak antara rumah dengan masjid maka akan semakin banyak pula dosa yang diampuni.

Yang keempat, bahwasanya diamnya orang yang duduk dimasjid dalam rangka menunggu sholat berjamaah diberi pahala kebaikan seperti orang yang mengerjakan sholat, semakin lama ia menunggu semakin banyak pula pahala yang didapat. Ini memotivasi kita untuk datang ke masjid seawal mungkin, segera setelah kita mendengar adzan berkumandang. Diamnya saja dihitung sebagiamana orang mengerjakan sholat, apalagi bila kita menunggu iqomah sambil mengerjakan sholat sunah atau dzikir, tentunya pahala yang kita dapat akan semakin melimpah.

Yang kelima, bahwa berwudhu dari rumah, ketika mau pergi ke masjid dalam rangka menunaikan sholat berjamaah adalah sebuah keutamaan, karena berwudhu dengan baik , sempurna niat dan rukunnya, menjadi syarat untuk mendapatkan keutamaan pada point kedua, ketiga dan keempat diatas.

Kemudian yang keenam, selama kita masih berada ditempat sholat kita, baik kita diam maupun berdzikir, para malaikat akan mendoakan kita, mendoakan agar Allah mencurahkan rahmat kepada kita, mendoakan supaya Allah mengampuni dosa-dosa kita, serta mendoakan agar Allah menerima tobat kita. Dengan syarat kita tidak sedang menyakiti hati orang lain dan kita masih mempunyai wudhu.

 

Dipublikasi di Seputar agama | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Mudik Berpahala

Mudik Berpahala Lebaran pasti mudik lha ya…

Kalo ga mudik pasti ga asik, sebab mudik sudah jadi tradisi, sudah mendarah daging kalo kata orang

Nah.. gimana biar mudiknya ga sekedar asik apalagi cuman hura-hura tapi mudik yang berbuah pahala.. Apa bisa mudik bisa menambah catatal amal kebaikan kita di sisi Allah subhanahu wa ta’ala? Kalo pake dasar hadist ‘innama a’malu binniyat’ pastinya bisa dong.. kan segala sesuatu bergantung pada niatnya.

Nah supaya mudik kita diitung sebagai perbuatan baik yang dapat balesan pahala yang pertama kita lakukan adalah memperbaiki niat kita. kita niatkan untuk tujuan-tujuan mulia, contohnya silaturahim ke orang tua, mau kasih sedekah ke saudara-saudara, mau sambung silaturahmi dengan kawan-kawan lama, reunian misalnya dan lain sebagainya. Nah dari niat baik itu saja kita sudah dapet satu pahala. jadi hindarkanlah niat niat yang mubah bahkan niat yang jelek yang justru bisa mendatangkan dosa, misal niat untuk pesta oplosan bareng teman-teman lama.

Kemudian apa dengan cukup niat yang baik? tentu tidaklah.. selanjutnya kita juga perlu untuk melakukan mudik dengan tidak melanggar aturan-aturanNya, selama perjalanan mudik kita tidak boleh menunggalkan kewajiban sholat kita, harus menghormati sesama pengendara, dan lain sebagainya.

So selamat mudik dan jangan lupa baca doa perjalanan…

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar