Rejeki Sudah dijamin Allah

اِجْتِهَادُكَ فِيْمَاضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَاطُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَيً اِنْطِمَاسِ اْلبَصِيْرَةِ مِنْكَ

“Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu (oleh Allah ) dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, itu merupakan tanda butanya bashiroh (Mata hati)

Nasehat bijak ini memberikan pemahaman kepada kita, bahwa sebaiknya jangan memaksakan diri untuk mengejar apa yang sudah dijamin oleh Allah Ta’ala atas seluruh makhluk-Nya, termasuk kita umat manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ankabuut ayat 60:

وَكَأَيِّن مِن دَآبَّةٍلَّ تَحْمِلُ رِزْقَهَااللَّهُ يَرْزُقُهَا وَأِيَّكُم وَهُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.

“Dan berapa banyak binatang melata yang tidak (mampu) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, juga Dia maha mendengar dan maha mengetahui.”

Juga firman Allah yang lain:

“Kami Allah tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat baik itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Thoohaa: 132)

Ibrahim Al-Khawwash, seorang bijak dari kalangan tabi’in pernah berkata:

“janganlah memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (untuk dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan apa yang telah diamanahkan (diwajibkan) kepadamu untuk memenuhinya.”

Bekerja keras dan profesional, adalah keharusan kita sebagai umat Islam dalam rangka untuk memenuhi segala kebutuhan hidup kita, akan tetapi aktifitas-aktifitas duniawi kita, jangan sampai melalaikan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah Ta’ala.

Dalam sebuah hadits, Rosulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah sangat mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Asykari)

Sumber: Al-Hikam (dengan sedikit perubahan redaksi kalimat)

Dipublikasi di Seputar agama, Uncategorized | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Beda Sunnah Dalam Pengertian Syariat dan Fikih

Ketika mendengar kata sunnah, misal kita disebutkan dalam sabda Nabi “ ikutlah sunnahku dan sunnah khulafaurrosyidin..” atau ketika mendengar sebuah hadits yang menceritakan tentang suatu golongan dari umat nabi Muhammad yang terusir tidak bisa mendatangi Nabi SAW ditelaga kautsar, dikarenakan setelah sepeninggal nabi mereka tidak lagi berpegang teguh pada kitabullah dan sunnah nabi. Barangkali sebagaian dari kita masih mengartikan kalimat sunnah tersebut dengan pengertian: sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Tentu saja pengertian seperti itu sangat keliru, karena yang dimaksud dengan sunnah sebagaimana tersebut diatas adalah sunnah dalam istilah syariat, yaitu “segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan/persetujuan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam”. Atau dengan kata lain, sunnah yang dimaksud disini adalah jalan hidup atau pedoman hidup Rosulullah SAW untuk kita, yang merupakan penjabaran atau penjelasan dari kitab Allah yaitu Al-Qur’an.
Tanpa penjabaran atau penjelasan serta contoh dari Nabi SAW kita, akan kesulitan untuk mengamalkan isi Al-Qur’an yang isinya masih global. Contohnya ketika didalam Al-Qur’an ada perintah sholat , Al-Qur’an hanya memerintahkan kita untuk sholat, tapi bagaimana  caranya sholat tidak disebutkan secara rinci oleh Al-Qur’an. Nah disini kemudian Rosulullah menjelaskan dan mencontohkan bagaimana pengamalan dari perintah sholat yang termaktub dalam Al-Qur’an tersebut. Sehingga kemudian ketika ada kalimat “sholatlah sesuai sunnah Rosulullah”maka yang dimaksud disini adalah sholat sebagaimana sholatnya Rosulullah, kita tidak boleh menambahi dan tidak mengurangi.
Dalam sunnah sebagaimana dimaksud diatas yaitu, “ segala sesuatu yang bersumber dari Nabi..”, maka segala sesuatu dari nabi yang berkaitan dengan perintah, ada yang bersifat wajib, sunnah, makruh, mubah dan juga haram. Nah disinilah kemudian muncul kata sunnah dalam istilah fikih, yaitu sunnah dalam konteks tingkatan hukum islam. Dimana “Sunnah” (disebut juga Mandub, Mustahabb, Nafilah, Masun) didefinisikan sebagai “Sesuatu yang diperintahkan oleh Syar’i tetapi tidak secara ilzam (wajib)“, dan “Sesuatu yang mandub (sunnah) itu pelakunya mendapat pahala jika didasari karena melaksanakan perintah, dan yang meninggalkannya tidak mendapat hukuman“. Atau secara umum dipahami sebagai sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Oleh karena itu, ketika mendengar kata-kata sunnah, hendaknya dilihat konteks pembicaraan. Apakah sedang membicarakan jalan hidup atau tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam atau sedang membicarakan tingkatan hukum dari sebuah amalan. Dan hendaknya kita senantiasa berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, baik itu yang Wajib maupun yang Sunnah. Wallahu a’lam.

Dipublikasi di Seputar agama | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Keutamaan sholat berjamaah

Abu Hurairoh ra. Berkata bahwa Rosulullah SAW bersabda, “Seseorang laki-laki yang melakukan sholat berjama’ah di masjid lebih baik dua puluh derajat dibanding sholat yang dilakukan di pasar atau di rumah. Sebab jika seseorang melakukan wudhu dengan baik, kemudian mendatangi masjid hanya untuk sholat, maka derajatnya akan ditinggikan satu tingkatan, dan keburukan akan diampuni setiap kali ia melangkahkan kakinya hingga ia masuk masjid. Bila ia telah masuk masjid, ia diberi pahala sebagaimana orang yang melakukan sholat (sekalipun ia hanya duduk), selama ia menanti sholat (berjama’ah). Para malaikat pun mendoakan seseorang, selama ia di tempat sholatnya (ia belum meninggalkan masjid). Para malaikat itu berdoa,”Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah tobatnya.” (Doa tersebut dibaca oleh para malaikat), selama ia tidak menyakiti (orang) dan tidak berhadats.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadits Rosulullah diatas menjelaskan tentang banyaknya keutamaan sholat berjama’ah dimasjid. Yang pertama bahwa sholat berjama’ah bagi seorang muslim laki-laki, dimasjid, nilai kebaikannya lebih banyak dua puluh derajat (dalam riwayat yang lain disebutkan 25 atau 27 kali lipat) dibanding dengan sholat di rumah atau di pasar, bahkan seandainya sholat di rumah atau di pasar itu dilakukan juga dengan berjama’ah.

Yang kedua bahwa sholat berjamaah dimasjid akan meninggikan derajat seseorang di sisi Allah SWT, setiap kali ia mendatangi masjid untuk sholat berjamaah, Allah akan tinggikan derajatnya satu tingkatan. Sehingga semakin sering seseorang pergi untuk melakukan sholat jamaah di masjid, semakin tinggi pula derajatnya disisi Allah SWT, walaupun di tengah-tengah masyarakat ia seorang manusia biasa, tapi dalam pandangan Allah ia adalah manusia yang sangat mulia.

Yang ketiga adalah bahwa seseorang yang pergi untuk melakukan sholat berjamaah dimasjid, maka setiap langkahnya akan menghapus keburukan, setiap satu langkah, satu dosa akan diampuni. Semakin jauh jarak antara rumah dengan masjid maka akan semakin banyak pula dosa yang diampuni.

Yang keempat, bahwasanya diamnya orang yang duduk dimasjid dalam rangka menunggu sholat berjamaah diberi pahala kebaikan seperti orang yang mengerjakan sholat, semakin lama ia menunggu semakin banyak pula pahala yang didapat. Ini memotivasi kita untuk datang ke masjid seawal mungkin, segera setelah kita mendengar adzan berkumandang. Diamnya saja dihitung sebagiamana orang mengerjakan sholat, apalagi bila kita menunggu iqomah sambil mengerjakan sholat sunah atau dzikir, tentunya pahala yang kita dapat akan semakin melimpah.

Yang kelima, bahwa berwudhu dari rumah, ketika mau pergi ke masjid dalam rangka menunaikan sholat berjamaah adalah sebuah keutamaan, karena berwudhu dengan baik , sempurna niat dan rukunnya, menjadi syarat untuk mendapatkan keutamaan pada point kedua, ketiga dan keempat diatas.

Kemudian yang keenam, selama kita masih berada ditempat sholat kita, baik kita diam maupun berdzikir, para malaikat akan mendoakan kita, mendoakan agar Allah mencurahkan rahmat kepada kita, mendoakan supaya Allah mengampuni dosa-dosa kita, serta mendoakan agar Allah menerima tobat kita. Dengan syarat kita tidak sedang menyakiti hati orang lain dan kita masih mempunyai wudhu.

 

Dipublikasi di Seputar agama | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Mudik Berpahala

Mudik Berpahala Lebaran pasti mudik lha ya…

Kalo ga mudik pasti ga asik, sebab mudik sudah jadi tradisi, sudah mendarah daging kalo kata orang

Nah.. gimana biar mudiknya ga sekedar asik apalagi cuman hura-hura tapi mudik yang berbuah pahala.. Apa bisa mudik bisa menambah catatal amal kebaikan kita di sisi Allah subhanahu wa ta’ala? Kalo pake dasar hadist ‘innama a’malu binniyat’ pastinya bisa dong.. kan segala sesuatu bergantung pada niatnya.

Nah supaya mudik kita diitung sebagai perbuatan baik yang dapat balesan pahala yang pertama kita lakukan adalah memperbaiki niat kita. kita niatkan untuk tujuan-tujuan mulia, contohnya silaturahim ke orang tua, mau kasih sedekah ke saudara-saudara, mau sambung silaturahmi dengan kawan-kawan lama, reunian misalnya dan lain sebagainya. Nah dari niat baik itu saja kita sudah dapet satu pahala. jadi hindarkanlah niat niat yang mubah bahkan niat yang jelek yang justru bisa mendatangkan dosa, misal niat untuk pesta oplosan bareng teman-teman lama.

Kemudian apa dengan cukup niat yang baik? tentu tidaklah.. selanjutnya kita juga perlu untuk melakukan mudik dengan tidak melanggar aturan-aturanNya, selama perjalanan mudik kita tidak boleh menunggalkan kewajiban sholat kita, harus menghormati sesama pengendara, dan lain sebagainya.

So selamat mudik dan jangan lupa baca doa perjalanan…

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Membersihkan Printer Zebra P330i

Cara Cleaning ZEBRA P330i

Cleaning Zebra P330i

Zebra P330i (Single Sided) dan Zebra P430i (Dual Sided)harus rutin di cleaning  supaya kualitas cetak-nya terjaga dengan baik dan juga membuat awet printhead printer. Untuk proses cleaning zebra p330i ada 2 tahap utama yang harus dilakukan, lakukan cleaning setiap habis mencetak 1.000 print, baik habis mencetak ribbon black ataupun mencetak pakai ribbon full color ymcko.


Peringatan Pabrikan untuk printer Zebra P330i :

Begitu pentingnya pemeliharaan / perawatan  terhadap idcard printer maka pabrikan merasa perlu mengeluarkan peringatan yang harus kita ingat selalu agar garansi pabrik tetap terjaga. Peringatan itu adalah sebagai berikut :

  1. Pakailah ribbon dan supplies yang original/asli zebra dan harus mengikuti ketentuan agar garansi tetap terjaga dengan kata lain garansi printer zebra p330i tidak GUGUR
  2. DILARANG mengencangkan, mengendurkan, menyetel, membengkokkan, dsb pada kabel atau bagian-bagian lain didalam printer  zebra p330i
  3. DILARANG menggunakan kompresor udara bertekanan tinggi untuk menghilangkan partikel-partikel didalam printer zebra p330i

Cara Cleaning Printer Zebra P330i

Ada 2 cleaning card untuk proses cleaning printer zebra p330i yaitu cleaning card atau disebut juga dengan head cleaning card dan long cleaning card.

  1. Printer Zebra P330i dalam keadaan nyala
  2. TEKAN & TAHAN tombol panel, sampai layar  LCD tampil REMOVE RIBBON THEN CLOSE HEAD
  3. BUKA Penutup utama, BUKA printhead carriage (rumah printhead), LEPASKAN ribbon dan TUTUP kembali printhead carriage maka di LCD akan tampil EMPTY FEEDER & PRESS BUTTON
  4. BUKA penutup Card Feeder dan KOSONGKAN kartunya.
    Jika kartu terakhir sulit diambil biarkan TEKAN tombol panel maka kartu akan mudah diambil. Selanjutnya di LCD akan tampil LOAD CLEANING CARD IN FEEDER
  5. MASUKKAN reguler cleaning card di posisi tempat masuknya kartu (input hopper)
    Cleaning card akan masuk secara otomatis ke dalam printer. Dalam proses ini LCD akan menampilkan pesan CLEANING PRINTER
  6. Setelah proses pembersihan selesai, cleaning card akan keluar sendiri, LCD akan menampilkan PRESS BUTTON TO CONTINUE
  7. TEKAN tombol maka LCD akan memuncul pesan FEED LONG CLEANING CARD IN EXIT, MASUKAN long cleaning card dari tempat keluar kartu (output hopper)
    Jika anda memasukkan reguler cleaning card maka akan tampil pesan INVALID CARD lalu TEKAN tombol panel hingga anda memasukkan long cleaning card dari tempat keluar kartu.

    Catatan proses long cleaning zebra p330i :
    Jika anda tidak menjalankan prosedur diatas (misalnya tidak memasukkan long cleaning card) setelah display menampilkan pesan CLEAN PRINTER maka printer tetap akan mencetak tetapi display akan tetap menampilkan pesan CLEAN PRINTER.
    Pembersihan yang tidak total tidak akan menjalankan pembersihan yang tidak sempurna.
    Untuk mengembalikan display ke pesan READY anda harus melengkapi proses menggunakan reguler cleaning card dan long cleaning card dari step 2 diatas s/d 9 dibawah ini.
  8. Long cleaning card otomatis akan masuk ke printer dan tampil pesan CLEANING PRINTER.
  9. Setelah selesai long cleaning card akan keluar dan display menampilkan pesan READY

INGAT : Jangan gunakan kembali cleaning card yang telah terpakai….!!!

Kalo masih bingung, berikut tutorial videonya..

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Prosedur Pengaduan Ke YLKI

pengaduan

Langkah Pengaduan ke YLKI

Berawal dari masalah yang dihadapi beberapa orang teman berkaitan pengajuan pembelian rumah baik KPR maupun cash dengan developer yang berinisial IAS yang prosesnya berlarut-larut dan semakin rumit, maka kami kemudian mencari informasi penyelesaian masalah tersebut diatas. Salah satu opsi yang kita tempuh adalah mengadukan permasalahan ini ke YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia).

Sekedar berbagi informasi berikut ini adalah prosedur pengaduan ke YLKI :

Cara yang dapat dilakukan untuk mengadu adalah melalui telepon, surat atau datang langsung ke kantor YLKI. Pengaduan melalui telepon dikategorikan menjadi dua yaitu:
1. Hanya minta informasi atau saran (advice), maka telpon itu cukup dijawab secara lisan pula dan diberikan advice pada saat itu dan selesai
2. Pengaduannya untuk ditindaklanjuti. Jika konsumen meminta pengaduannya ditindaklanjuti, maka si penelepon diharuskan mengirim surat pengaduan secara tertulis ke YLKI yang berisi :

  • Kronologis kejadian yang dialami sehingga merugikan konsumen
  • Wajib mencantumkan identitas dan alamat lengkap konsumen
  • Menyertakan barang bukti atau fotocopy dokumen pelengkap lainnya (kwitansi pembelian, kartu garansi, surat perjanjian, dll)

Apakah konsumen sudah pernah melakukan komplain ke pelaku usaha..?  Jika belum pernah, maka konsumen dianjurkan untuk melakukan komplain secara tertulis ke pelaku usaha terlebih dahulu.

  • Cantumkan tuntutan dari pengaduan konsumen tersebut

Setelah surat masuk ke YLKI, resepsionis meregister semua surat-surat yang masuk secara keseluruhannya (register I). Selanjutnya surat diberikan kepada Pengurus Harian setidaknya ada tiga yaitu :

(a) Ditindaklanjuti/ tidak ditindaklanjuti

(b) Bukan sengketa konsumen

(c) Bukan skala prioritas.

Surat di disposisikan ke Bidang Pengaduan Konsumen dilakukan register II Khusus sebagai data pengaduan.

Setelah surat sampai ke personil yang menangani maka dilakukan seleksi administrasi disini berupa kelengkapan secara administrasi.

Proses Administrasi
Langkah selanjutnya dilakukan setelah proses administasi dan analisis substansi, yaitu korespondensi kepada pelaku usaha dan instansi terkait sehubungan dengan pengaduan konsumen.
Pada tahap pertama korespodensi dilakukan bisanya adalah meminta tanggapan dan penjelasan mengenai kebenaran dan pengaduan konsumen tersebut. Di sini YLKI memberikan kesempatan untuk mendengarkan kedua belah pihak yaitu versi konsumen dan versi pelaku usaha. Tidak jarang dengan korespodensi ini kasus dapat diterima masing-masing pihak dengan memberikan jawaban surat secara tertulis ke YLKI yang isinya permintaan maaf kepada konsumen dan sudah dilakukan penyelesaian langsung kepada konsumennya.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan dalam korespodensi ini masing-masing pihak tidak menjawab persoalan dan bersikukuh dengan pendapatnya. Dalam kondisi ini YLKI mengambil inisiatif dan pro aktif untuk menjadi mediator. YLKI membuat surat undangan untuk mediasi kepada para pihak yang sedang bersengketa untuk mencari solusi terbaik.

Proses Mediasi
YLKI memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya tanpa boleh dipotong oleh pihak lain sebelum pihak pertama selesai memberikan penjelasan. Setelah masing-masing menyampaikan masalahnya, maka YLKI memberikan waktu untuk klarifikasi dan koreksi tentang apa yang disampaikan oleh masing-masing pihak.
Setelah permasalahannya diketahui, maka masing-masing pihak berhak menyampaikan opsi atau tuntutan yang diinginkan, sekaligus melakukan negosiasi atas opsi atau tuntutan tersebut untuk mencapai kesepakatan. Apabila telah dicapai kesepakatan, maka isi kesepakatan itu dituangkan dalam Berita Acara Kesepakatan. Tahap akhir dari proses mediasi adalah mengimplementasikan hasil kesepakatan.
Dalam melakukan penyelesaian kasus secara mediasi, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi yaitu :

  • Terjadinya kesepakatan berarti selesai
  • Tidak terjadi kesepakatan alias deadlock, artinya kasus selesai dalam tingkatan litigasi.

Dari pengalaman yang selama ini ditemui bidang pengaduan, mayoritas kasus dapat diselesaikan dengan tercapainya kesepakatan damai. Walau memang ada satu dua yang mengalami deadlock. Namun proses mediasi lebih efektif dan memudahkan untuk segera terselesaikan kasus yang ada. Semoga bermanfaat!

Jazakallah Khoiron Katsiron kepada akhuna Muchlis RE.

Sumber :ylki.or.id

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Zawjaty (Istriku)

Sebuah Nasyid yang berisi syair tentang ungkapan cinta seorang suami terhadap istrinya. Dilantunkan oleh Ahmed Bukhatir munsyid asal Uni Emirat Arab.

أُحِبُّـكِ مثلما أنـتِ أُحِبـُّكِ كيـفما كُنــْتِ

ومهما كانَ مهمــــا صارَ أنتِ حبــــــــيـبتي أنتِ

حَلالـــــــــي أَنتِ لا أَخْشى عَذولاً هَمّـُــــــــــــــــــه مَقْتِي

لقدْ أَذِنَ الزمــــــــــــــــــــــانُ لنا بِوَصْلٍ غَــــــــــــــــــيْرِ منْبَتِّ

سَقَيْـــتِ الحُــــــــــــــــــبَّ في قلبـي بِحُســـــــــــــــــْن الفعلِ والسَّمْتِ

يغيبُ السَّعـــــــــــــــــــْدُ إن غِبْتِ ويَصْـــــــــــــــــــــــــفو العَيْشُ إِنْ جِئْتِ

نهاري كــــــــــــــــــــــــادِحٌ حتى إذا ما عُـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــدْتُ للبـيتِ

لَقِيتُكِ فانْجَـــــــــــــــــــــــــــــلى عني ضَــــــــــــــــــــــــــــــــــنايَ إذا تَبَسَّمـْتِ

تَضيقُ بيَ الحيـــــــــــــــــــــــــــاةُ إذا بها يومــــــــــــــــــــــــــــــــــاً تَبَــرَّمتِ

فأَســــــــــــــــــــــــــــــعى جاهـداً حتى أُحَقِّقَ مــــــــــــــــــــــــــا تَمَنَّيـــْتِ

هَنــــــــــــــــائي أنتِ فَلْتَهْنَيْ بِدفءِ الْحُـــــــــــــــــــــــــــبِّ مَا عِشْــتِ

فَرُوحَــــــــــــانَا قدِ ائْتَلَفا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّــــــــــــــــــــــــــبْـتِ

فَيَا أَمَلـــــي وَيَا سَكَنـــــِي وَ يَا أُنْسِـي ومُلْهِــــــــمَتِي

يَطيبُ العَيْشُ مَهْمَا ضَـاقَتِ الأيامُ إِنْ طِبْتِ


Zawjati (Istriku…)

“Uhibbuki mitsla mâ antê” , Aku mencintamu sebagaimana kamu mencinta

“Uhibbuki kaifamâ kunteee” , Aku mencintamu apapun kondisinya

“Wa mahmâ kâna mahma shâra” ,Tak peduli dengan yang sedang atau akan terjadi

“Anti habîbatî anteee”, Kamu tetap dan akan selalu menjadi cintaku

“Zawjateee…” [Istriku.. ]

“Anti habîbatî anteee” , Kamu tetap dan akan selalu menjadi cintaku

“Uhibbuki mitsla mâ anteee” , Aku mencintamu sebagaimana kamu mencinta

“Uhibbuki kaifamâ kunteee”, Aku mencintamu apapun kondisinya

“Wa mahmâ kâna mahmâ shâra”, Tak peduli dengan yang sedang atau akan terjadi

“Anti habîbatî anteee”, Kamu tetap dan akan menjadi cintaku 

“Zawjateee…” [Istriku… ]

“Halâli anti lâ akhsyâ azûlan hammuhu maqtee …”, Kamu adalah istriku yang sah (halal), Aku tidak peduli dengan orang yang mencela dan mengataiku (karena mencintamu) 

“Laqad adzina zamânu lanâ bi wushlin ghayri mumbatteee”, Waktu telah mengizinkan kita untuk selalu hidup bersama 

“Saqayti-l hubba fî qalbî bi husnil fi’li wa-s samti” , Kamu menyemaikan cinta dalam lubuk hatiku, dengan sayang dan budi baik 

“Yaghîbu-s sa’du in ghibti”, Semua kebahagian terasa hampa ketika engkau tidak ada

“Wa yashfu-l a’ysyu in ji’ti”, Hidup serasa menggairahkan ketika engkau ada di sana

“Nahâri kâdihun hattâ idzâ mâ udtu li-l baytee” , Hariku sulit hingga aku kembali pulang ke rumah

“Laqîtuki fanjalâ ‘annî dhanâya idzâ tabassamteee” , Semua sedih lenyap seketika tatkala kulihat senyum manismu

“Uhibbuki mitsla mâ anteee” , Aku mencintamu sebagaimana kamu mencinta

“Uhibbuki kaifamâ kunteee”, Aku mencintamu apapun kondisinya

“Wa mahmâ kâna ,mahmâ shâra“, Tak peduli dengan yang sedang atau akan terjadi

“Antî habîbatî anteee” , Kamu tetap dan akan selalu menjadi cintaku

“Zawjateee…” [Istriku… ]

“Antî habîbatî anteee” , Kamu tetap dan akan selalu menjadi cintaku

“Tadhîqu biya-l hayâtu idza bihâ yawman tabarramti” , Hidupku menjadi susah ketika suatu hari kamu bingung 

“Fa as’â jâ hidan hatt â uhaqqiqa mâ tamannaytee” , Sehingga Aku berusaha keras untuk membuat pintamu menjadi nyata 

“Hanâ’î anti fa-l tahnay bi dif’il hubbi mâ isytee” , Kamu adalah bahagiaku, maka nikmatilah dengan kehangatan cinta, selama kamu masih hidup

“Fa rûhanâ qad I’talafâ ka mitsli-l ardhi wa-n nabteee”, Jiwa kita sudah menyatu sebagaimana halnya bumi dan tetumbuhan

“Fa yâ amalî wa yâ sakanî wa yâ unsî wa mulhimateee” , Kamu adalah harapanku, ketenanganku, kedamaianku dan pemberi inspirasi dalam hidupku

“Yathîbu-l aysyu mahmâ dhâqati-l ayyâmu in thibteee” , Hidup ini indah asal kamu bahagia sekalipun masalah sehari-hari sulit mendera

“Fa yâ amalî wa yâ sakanî wa yâ unsî wa mulhimateee”, Kamu adalah harapanku, ketenanganku, kedamaianku dan pemberi inspirasi dalam hidupku

“Yathîbu-l aysyu mahmâ dhâqati-l ayyâmu in thibteee”, Hidup ini indah asal kamu bahagia sekalipun masalah sehari-hari sulit mendera

“Uhibbuki mitsla mâ antê” , Aku mencintamu sebagaimana kamu mencinta

“Uhibbuki kaifamâ kunteee” , Aku mencintamu apapun kondisinya

“Wa mahmâ kâna mahmâ shâra” , Tak peduli dengan yang sedang atau akan terjadi

“Anti habîbatî anteee”, Kamu tetap dan akan selalu menjadi cintaku

“Zawjateee…” [Istriku…]

“Anti habîbatî anteee”, Kamu tetap dan akan selalu menjadi cintaku

Koreksi : Ada beberapa kalimat yang mungkin dianggap musykil, bermasalah. Yaitu, kalimat “Fa yâ amalî wa yâ sakanî wa yâ unsî wa mulhimateee” [Kamu adalah harapanku, ketenanganku, kedamaianku dan pemberi inspirasi –dalam hidupku], karena kalimat ini bisa menjerumuskan kepada syirik mahabbah, syirik cinta; menduakan cinta Allah dengan cinta makhluk-Nya. Seolah istrilah yang menjadikan hidup ini indah, tumpuan harapan, sumber ketenangan-kedamaian dan sumber inspirasi. Oleh karenanya, perlu kami ingatkan bahwa kalimat-kalimat tersebut tidak sepantasnya diucapkan, tentu bila ini dimaksudkan untuk mengagungkan dan memuja istri terlalu berlebihan. Tetapi bila kalimat ini hanya dimaksudkan untuk menggambarkan betapa hidup ini terasa hampa tanpa kehadiran seorang istri sebagaimana hampanya hidup Adam tanpa kehadiran Hawa, dan dialah yang menjadikan semua letih-lelah suami sirna dengan senyum cintanya, tentu saja ini diperbolehkan, bahkan tidak sedikit seorang suami yang mendapatkan banyak inspirasi karena kehadiran istrinya tercinta, dan in syaAllah inilah yang dimaksudkan oleh si munsyid. Wallahu A’lam.

Diterjemahkan oleh Ibnu Abdul Bari el ‘Afifi.

sumber lirik & terjemahannya:oaseiman.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar